Belajar Dari Anak Oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA.

Belajar Dari Anak by Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA.

Kesan Setelah Membaca Buku

  • Ternyata menjadi dewasa tidak semerta langsung menjadi lebih baik, harus selalu diingatkan pelajaran-pelajaran dari seorang anak yang masih diatas fitrah, jujur, tidak pendendam, selalu bertanya, tidak mudah putus asa
  • Bahasa yang ringan memudahkan untuk dibaca kapan saja diwaktu luangmu dan contoh-contoh yang beliau bawakan sangat menggambarkan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari pembaca, seakan tertampar oleh nasehat Ustadz yang sederhana namun sungguh mengena
  • Untuk sobat produktif yang masih sering putus asa, mudah menyerah, dan tidak berusaha untuk menggapai kesuksesan, berarti masih kalah dengan anak-anak

3 Kata Mutiara Dalam Buku

“Jika anda menyerah dengan cobaan, maka sejatinya anda telah kalah dengan anak kecil”

“Modal kejujuran yang telah dititipkan Allah sejak kecil, jangan disia-siakan, Apalagi diubah dengan kebiasaan berdusta”

“Salah satu jendela pembuka ilmu adalah bertanya”

Ringkasan Buku + Catatan (dari ABAH)

“Ada 4 pelajaran dari anak yang penulis hafidzahullah tuliskan; Belajar Tidak Mendendam, Belajar Tidak Malu Bertanya, Belajar Tidak Gampang Putus Asa, Belajar Bersikap Jujur”

Belajar Tidak Mendendam

“Anak usia 4 th ketika bertengkar dengan kawannya setelah beberapa menit kembali akur lagi, kenapa mereka bisa kembali akrab dalam waktu yang begitu singkat? Jawabanya adalah: karena mereka tidak mempunyai perasaan dendam”

“Dengan memendam rasa marah, rasa sakit hati dan rasa dendam, sebenarnya kita sedang menambah kerugian buat diri kita sendiri”

Catatan: kerugian tersebut adalah kerendahan (dzullun), padahal kalau kita memaafkan akan Allah tambah pada diri kita (’izzun) kemuliaan

Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

‌”Kemuliaan yang didapat dari memaafkan itu lebih dicintai dan bermafaat untuknya dibandingkan kemuliaan yang didapat karena balas dendam, karena balas dendam kemuliaannya hanya nampaknya saja, akan tetapi dalam bathinnya mewariskan kehinaan, adapun memaafkan walaupun secara dzahir seperti orang yang terhina, namun bathinnya dan dzahirnya sebenarnya merasakan kemuliaan” (Qoidah Fi Ash Shobr hal.97)

“Level membalas keburukan orang lain terhadap kita ada 3:

1.) Adil

2.) Istimewa

3.) Zalim

Adil membalas keburukan dengan keburukan yang serupa tidak boleh melebihi

Istimewa membalas keburukan dengan maaf, dan kebaikan

Zalim mengawali perbuatan jahat ke orang lain atau membalas keburukan dengan keburukan yang lebih parah inilah yang disebut Zalim”

Catatan: Kalau bisa jadilah yang istimewa kalau belum jadilah orang yang Adil, tapi jangan sampai menjadi orang yang Zalim”

Belajar Tidak Malu Bertanya

“Alangkah baiknya kita membiasakan diri untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum Islam. Baik hukum yang kecil, maupun yang besar. Sebab jika seseorang lebih sering dikungkung rasa malu dia akan terhalang untuk meraih ilmu”

Catatan: 2 Hal yang bisa menghalangi semangat mencari Ilmu

1.) Kesombongan

2.) Rasa malu

Sebagaimana ucapan Imam Mujahid rahimahullah: “Orang yang malu dan sombong tidak akan menuntut ilmu”

“Orang yang merasa dirinya pintar, sejatinya dia adalah orang bodoh. Sebab dia tidak akan pernah mau menambah ilmu. Sebaliknya orang yang merasa dirinya bodoh, maka ia calon orang pintar. Karena ia akan terus berusaha belajar dan menambah ilmu”

Catatan: Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:

"Seseorang tetap dikatakan berilmu selama dia masih terus menuntut ilmu, apabila dia menyangka bahwa dirinya telah berilmu maka sungguh dia telah bodoh."

(Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi 2/186)

“Selektif saat bertanya perkara Agama, realita membuktikan bahwa banyak masyarakat yang cenderung selektif dalam memilih dokter, Namun tidak sebaliknya manakala mereka mencari kiai tempat bertanya”

“Kalau dalam dunia medis dikenal mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga dikenal adanya kiai palsu”

Belajar Tidak Gampang Putus Asa

“Satu fase dalam kehidupan anak-anak yang selalu tak terlewatkan adalah fase belajar berjalan”

“Pernahkah kita mendengar berita tentang anak yang putus asa, akibat sering jatuh karena belajar berdiri?”

“Anak itu berhasil karena ia menerapkan prinsip keberhasilan, yakni terus mencoba dan berusaha, tanpa takut gagal ataupun putus asa. Prinsip kesuksesan itu ternyata pernah kita semua miliki”

Catatan: Prinsip kesuksesan adalah: Terus mencoba dan berusaha tanpa takut gagal ataupun putus asa

Ibnul Qoyyim rahimahullah pernah berkata: “Kesuksesan itu tidaklah diraih kecuali dengan merasakan beratnya beban dan kesulitan, dan tidak menyeberanginya kecuali diatas jembatan yaitu keletihan, dan cape” (Miftah Dar As Sa’adah: 2/895)

“Andaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan dari Allah, dengan musibah yang ditimpakan-Nya, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit”

Catatan: Ini salah satu cara dalam mengajak saudara kita yang kita dakwahi berfikir, yaitu dengan membandingkan kecilnya keburukan dengan besar dan banyaknya karunia Allah agar supaya mereka tidak putus asa dari rahmat Allah

Belajar Bersikap Jujur

“Anak sulit untuk berbohong, berbeda dengan banyak orang dewasa yang pintar bersandiwara untuk menyembunyikan kesalahannya. Bahkan terkadang tega untuk lempar batu sembunyi tangan. Maling teriak maling.”

“Informasi luar yang anak-anak serap. Juga pengaruh lingkungan yang dilihatnya setiap hari ditempat mereka tumbuh yang akan membuat anak-anak berubah”.

“Idealnya, seorang yang berbuat salah, harus mengaku. Sebagai langkah awal untuk menggugurkan dosa kesalahan tersebut.”

Catatan: Sebagaimana firman Allah Ta’aala:

“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs Al Baqarah 160)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaedah Dalam Bersabar by Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah